Kamis, 24 Maret 2016

Pengalaman Pahit 'Diusir' dari Potato Head Bali

Little A, sebelum kejadian

Tuhan memang maha asyik. Saya diajak guyon waktu liburan sekeluarga ke Bali tempo hari. Sabtu pagi saya dibuat jumawa karena profil keluarga kami dimuat di koran Jawa Pos, bersanding dengan profil Mbak Nyomie yang sudah naik turun gunung membawa anaknya dan juga Mbak Sha Ine Febriyanti, aktris papan atas. Lha apalah saya ini, Emak-Emak ndeso yang ikutan nampang di koran. Jelas saya besar kepala. Sabtu siangnya kami disambut dengan sangat ramah di hotel Tugu di Canggu Bali. Di hotel mewah ini semua keinginan kami bisa dituruti. Mau afternoon tea di bale-bale? Boleh. Mau sarapan di pantai? Monggo. Di sini tamu bagaikan raja, kami sampai menyesal karena hanya menginap satu malam saja. Lha gimana lagi, menangin voucher hotel-nya cuma untuk satu malam :p. E lha kok Minggu sorenya kami 'diusir' dari beach club yang tersohor di daerah Seminyak ini. Ha-ha-ha.
Saya bukan penggemar beach club atau tempat yang ramai-ramai. Kami 'nyasar' ke Potato Head karena diajak adik saya Diladol. Dia sekeluarga memang liburan juga ke Bali, tapi jadwal kami berbeda. Saya menginap di Canggu sementara dia menginap di hotel murah di Kuta. Beda kelas, guys! *kibas kartu kredit* Jadi kami memutuskan untuk ketemuan di sini sambil (rencananya) leyeh-leyeh melihat sunset di Seminyak. Rencananya...

Mendengar kata beach club, saya langsung teringat Kak kancut Cumilebay. Saya baca review potato head di lapaknya. Kayaknya tempatnya oke punya. Tapi saya nggak yakin kalau tempat ini kids friendly. Eh ternyata Kak Tesya dan kiddosnya pernah ke sini dan ditulis di blognya. Cukup family friendly menurut Kak Tesya, ada kolam renang untuk anak pula. Sip!

Kami sampai di sini sekitar jam 3 sore diantar sopir Hotel Tugu yang sabar banget menghadapi kemacetan jalanan karena bubaran upacara melasti. Jalan masuk ke Potato Head ini semacam kios kecil yang dijaga sekuriti. Semua orang diperiksa. Si Ayah dilarang membawa tripod-nya. Huwooo... nggak jadi motret sunset dong. Masuk ke sini dilarang bawa makanan dan minuman. Saya kebetulan masih membawa botol air mineral, petugas tidak menyita tapi meminta saya untuk menyimpannya di tas saja, tidak boleh diminum di dalam. Hokeee...

Setelah lolos sekuriti, kami disambut waiter. "Apa ibu pernah ke sini?" kata waiter bernama David (atau Dafid, atau Daveed, entahlah). Karena saya bilang belum pernah, dia menjelaskan aturannya. Ada dua venue yang bisa dipilih, yang Indonesia atau Internasional. Makanannya ya Guys, bukan orangnya. Saya tadinya pilih resto internasional karena anak-anak bakal lebih suka makan roti atau pasta, tapi ternyata sudah penuh. Ya sudah akhirnya kami dapat tempat duduk di resto Lilin, masakan Indonesia. David mengatakan kami bisa pesan di resto Internasional asalkan kami juga memesan di resto Indonesia. Kata David kami boleh ke mana saja di area beach club ini dan menggunakan fasilitas apa saja yang tersedia. Baiklah.

Harus saya akui, arsitektur Potato Head ini oke banget. Apalagi kabarnya seniman top Indonesia, Eko Nugroho dilibatkan dalam proyek ini. *sungkem mas Eko* Yang paling keren tentu saja dekorasi dari daun-daun jendela yang dipasang mengelilingi venue ini. Sungguh selfieable dan instagrammable.

Urip mung mampir selfie

Little A langsung berganti bikini dan bermain di pantai, ditemani Si Ayah. Saya menemani Big A yang hari itu kurang enak badan. Kami memesan minuman di sini yang harganya mulai 40-60 ribu untuk minuman tanpa alkohol. 

Keluarga Diladol akhirnya datang dan bergabung dengan kami. Cousin K juga mau main di pantai. Sejam kemudian kami baru pesan makanan, setelah buku menu diambil tanpa permisi dari meja kami, hahaha. Menu makan yang ada di sini adalah set menu untuk tiga porsi, harganya mulai 150 ribu, belum termasuk nasi. Big A pengen chicken wings. Tadinya dari penuturan Si David, dari set menu ini saya cuma bisa pilih satu macam, dan akan disajikan dalam 3 porsi. Huh? Waktu itu saya sampai tanya: jadi saya nggak bisa pesan 3 macam makanan untuk set menu? "Tidak Ibu, hanya pilih satu menu saja." Ternyata kata pelayan bisa memilih 3 menu. Agak gak beres Si David ini. Porsinya memang kecil-kecil banget. Gak bakalan kenyang sih, cuma bisa untuk ganjal perut saja. Big A suka banget chicken wings-nya, sayangnya cuma dapat dua biji :)

Menjelang matahari terbenam tampaknya Dila mulai kewalahan mengejar Cousin K yang berlarian ke mana-mana. Yah namanya anak-anak. Akhirnya mereka pamit duluan. Saya membilas Little A yang bikininya penuh dengan pasir. Sepertinya dia sangat menikmati waktu bermainnya di pantai. Memang sih kalau pantai di depan beach club begini bersih dan lebih sepi. Pantainya pun tetap terbuka untuk umum kok, tapi mungkin memang harus jalan agak jauh dari 'gerbang' pantai yang umum. Toilet di PH juga bersih, luas dan adem banget. Petugas cleaning service sangat ramah pada kami, menunjukkan jalan dan membukakan pintu. Setelah bilas sampai bersih, saya mulai menyuapi Little A dengan nasi zaitun dan sayap ayam. Ketika itulah ada pelayan resto yang menghampiri kami dan mengatakan bahwa waktu kami tinggal 15 menit lagi, karena tempat ini sudah di-booking. "Masih lama kok, masih lima-belas-menit," katanya sambil nyengir. Saya dan Si Ayah berpandang-pandangan. Hah, memangnya ada batasan waktu di sini? 

Saya tidak ingat kalau ada aturan soal batasan waktu di sini. Yang saya baca dari tulisan teman-teman di blog, kalau main ke beach club ya minimal bakalan nongkrong sampai sunset. Ketika datang di awal juga tidak diberi tahu. Sungguh nggak nyaman banget, diingatkan untuk pergi saat saya sedang menyuapi Little A. Di situasi seperti ini mau nggak mau saya dan Nino (suami saya) jadi berpikir, apakah kami akan mendapat perlakukan seperti ini kalau kami bule. Keluarga bule di seberang kami anteng-anteng aja nggak diganggu gugat. Sementara yang duduk-duduk di dekat kolam renang (kabarnya harus transaksi minimal 500 ribu) sepertinya juga tetap akan berpesta sampai sunset.

Padahal kalau dipikir-pikir, kami ini kurang Ngostraliyah apa coba? Suami saya kuliah di Ostrali. Little A lahir di Sydney. Big A masih lebih lancar ngomong bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Anak-anak ini lebih doyan roti dan keju (dan vegemite!) daripada nasi. Ironis ya? Intinya sih, kami gagal menyamar jadi bule, hahaha. Gak mungkin kamu akan diperlakukan seperti bule kalau kulit kamu coklat, rambut kamu hitam.

Mungkin memang tampang saya lah masalahnya. Tampang saya yang sederhana ini. Kalau saya pinter pakai benges lipenstik seperti blogger termashyur Simbok Olenka mungkin bakalan beda perlakuannya. Atau saya berdandan ala hijaber kondang pakai kacamata hitam besar meski di ruang tertutup (seriously), mungkin bakalan beda pelayanannya. Atau apakah saya semestinya cas cis cus pake basa enggres dengan si David agar lebih dihormati? Mas dan Mbak, Bali ini masih Indonesia kan? Saya akan tetap pakai bahasa Indonesia selama saya di Indonesia kalau yang saja ajak bicara orang Indonesia juga.

Akhirnya Si Ayah bangkit dan menanyakan apa alasan kami disuruh pergi dengan halus. Ini kami masih tanya baik-baik ya. Si pelayan (yang berbeda dari yang mengusir kami) tidak bisa menjelaskan, dia hanya bilang bahwa meja kami sudah ada yang memesan. Dia tidak bisa berkomentar tentang batasan waktu (mungkin memang tidak ada?). Lha kalau masih ada yang duduk di sini kenapa mejanya dikasih orang? Si pelayan meminta maaf tapi tidak menyelesaikan masalah. The damage has been done.

Meski mungkin si pelayan tidak akan benar-benar mengusir kami, saya sudah tidak nyaman duduk di meja. Oke, kami akan pergi, tapi setelah saya habiskan makanan seharga 400 ribu ini, biar nggak mubazir. Sakit hati saya juga karena saya sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit, tapi mendapat pelayanan yang buruk, sangat tidak sepadan. Masih mending adik saya, Dila, yang meski mengaku jadi food blohher tapi keukeuh pesen satu minuman doang dan 'cuma' habis 60 ribu. Modal 60 ribu kalau 'diusir' mungkin sakit hatinya dikit aja :p Lha saya? Pahit bener. Ternyata memang pinteran strategi adik saya daripada saya :D Kalau nggak pakai 'diusir' mungkin ya asyik-asyik aja di PH. Baca cerita tentang Potato Head di blognya.

Setelah membayar dan sebelum pergi, Si Ayah sekali lagi menanyakan alasan kami 'diusir'. Kali ini pakai bahasa Inggris yang faseh agar diperhatikan sama waiter-waiter trendi itu. Eh Si David bilang kalau dia sudah memberi tahu saya kalau kami diberi batasan waktu. "YOU LIE!" semprot Si Ayah. Duh, merinding disko gak sih dibelain suami kayak gitu? Emang David nggak pernah kasih tahu saya, Si Ayah tahu karena ada di belakang saya ketika saya bicara dengan David. Lagipula, kalau dia memberi tahu saya kalau kursi itu cuma bisa dipakai sampai sebelum sunset, saya bakalan menolak karena rencana awal saya dan Dila adalah menikmati sunset. Si Ayah yang cas cis cus minta dipanggilkan manajer. Si manajer yang kata para waiter sedang sibuk itu akhirnya datang juga dan meminta maaf. Manajer menawarkan free drink untuk Si Ayah. "No, I don't need your drink," balasnya. Ya udah deh, kuliah gratis tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia oleh pak dosen :p

Menurut Si Ayah, David si waiter ini dari awal memang nggak pengen kami ada di area internasional. Saya jadi ingat, awalnya dia menawarkan pada saya, mau di area internasional atau Indonesia? Ketika saya memilih area internasional, si David malah bilang kalau sudah penuh. Lha kenapa tadi ditawarkan? Apa dia tiba-tiba berubah pikiran? Jadi ada tiga 'kesalahan' si David ini, setidaknya menurut asumsi kami. Entah dia sengaja atau tidak, kami tidak tahu.
1. Menghalangi kami duduk di area Internasional.
2. Memberi info yang tidak benar tentang menu set. Saya hanya boleh pesan satu jenis, padahal boleh pesan tiga.
3. Memberikan tempat duduk kami kepada orang yang booking dan berkata bohong bahwa dia sudah bilang pada kami kalau ada batasan waktu.

Ketika kami menunggu pesawat di bandara Ngurah Rai, saya menerima email dari manajer Potato Head. Dia meminta maaf atas kejadian yang kami alami dan menawarkan gantinya kalau kami ingin ke sana lagi. Thank you but no. I wish I could undo this experience. Biar saya nggak usah ingat-ingat lagi. Rasanya saya nggak sanggup datang ke Potato Head lagi. Saya sungguh marah dan terhina diperlakukan tidak baik, lebih parah lagi, oleh bangsa sendiri. Seharusnya dengan harga makanan dan minuman seperti itu, Potato Head punya standar pelayanan yang sangat tinggi dan tidak membeda-bedakan tamu lokal dan internasional.

Saya menunda menulis pengalaman ini untuk memberi waktu agar kemarahan saya mereda. Tapi nyatanya sampai sekarang masih saja baper sakit hati kalau ingat ini. Ketika berkunjung ke Singapura, saya sempat singgah ke kafe Three Buns, yang masih satu grup dengan Potato Head. Di sana saya dilayani dengan baik, meski memang sebagian besar tamunya adalah expatriat, bukan orang Asia. Sementara pengalaman saya di negeri sendiri... Saya menulis untuk mengingatkan siapa pun di dunia hospitality agar selalu menghargai tamu, tidak peduli asal usulnya atau tampang sederhananya. Kalau memang ada aturan tertentu untuk tamu sebaiknya ditulis dan dijelaskan dengan gamblang di awal, tapi berlaku untuk semuanya ya, jangan membeda-bedakan.

Adakah yang pernah mendapat perlakuan yang nggak enak di beach club? Share di komentar ya. Thanks for reading ^_^

>>> UPDATE 18 APRIL 2016 <<<

Pihak Potato Head pusat sudah menghubungi saya melalui telepon. Berikut adalah statement dari PH.

"Kami telah berbicara langsung dengan Ibu Ade Kumalasari. Kami sangat menyesali dan sungguh meminta maaf kepada Ibu beserta keluarganya atas kesalahan komunikasi yang telah terjadi dan atas pengalaman yang tidak menyenangkan di Potato Head Beach Club.

Kami selalu menginginkan pelayanan terbaik kepada semua pelanggan kami dan berkomitmen untuk memperlakukan semua pelanggan kami secara sama, yaitu sebagai tamu terhormat di rumah kami. Ini adalah nilai perusahaan yang kami ajarkan kepada semua anggota staf kami. Kami adalah perusahaan Indonesia yang dioperasikan oleh orang Indonesia, dan kami menyambut dan menghargai semua tamu kami dengan setara tanpa membeda-bedakan.

Terima kasih Ibu Ade atas inputnya. Kami akan meningkatkan pelatihan kami agar staff kami lebih lengkap sewaktu memberikan informasi dan berkomunikasi, dan supaya kami bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada semua tamu kami."


Dengan ini saya nyatakan masalah ini selesai ya. Semoga Bali tetap menjadi destinasi yang nyaman bagi kita semua. Terima kasih atas dukungan teman-teman semua.

Empat ratus ribu tapi rasanya pahit :'(




Ps: untuk review Potato Head yang lebih ceria dengan foto makanan yang lebih menggairahkan, baca di blog Dila ya.

Jumat, 18 Maret 2016

Pengalaman Memakai Grab Car di Bali


Disclaimer:
Cerita ini berdasarkan pengalaman kami ke Bali tanggal 5-6 Maret 2016. Kebijakan operasional Grab atau tarif mungkin berbeda di lain waktu. Cerita ini tidak disponsori oleh Grab, kami membayar sendiri semua pengeluaran kami :)

Ketika keluarga saya dan keluarga adik saya, @diladol, akhirnya memutuskan ke Bali bareng, kami mulai kasak-kusuk mengusahakan transportasi selama kami di sana. Enaknya gimana? Sewa mobil, sewa motor, naik taksi, pakai Uber, atau pakai Grab? Tadinya adik saya sekeluarga (anaknya baru satu, ponakan saya K yang keren, umur 2 tahun) mau sewa motor saja. Sementara dari bandara ke hotel mau numpang saya naik Uber, karena kabarnya Grab Car dilarang beroperasi di bandara Ngurah Rai.


Saya tadinya mau menyewa mobil. Browsing di internet dan nanya teman, sewa mobil selama 12 jam termasuk sopir dan bensin Rp 500 ribu. Tapi setelah saya pikir-pikir, rencana kami kan nggak mau keliling ke mana-mana, cuma mau ngendon di hotel aja, jadinya sewa mobil bakalan mubazir. Sayang uangnya. Fyi, meski liburan bareng, saya dan adik saya menginap di tempat berbeda. Adik saya di hotel bintang 3 di Kuta, sementara saya dan precils di hotel bintang 5 di Canggu. Yah, sesuai tingkat kesejahteraan lah, hahaha. Menjelang hari H, ponakan K malah sakit flu, jadinya mereka memutuskan nggak jadi sewa sepeda motor. Kami putuskan mau coba pakai Uber dan Grab Car aja, sambil lihat nanti di lapangan kayak apa.

Keluarga kami mendarat di Ngurah Rai airport lebih dulu dari keluarga Dila. Ya kan Surabaya lebih dekat dari Jogja :p Sembari menunggu Dila cs, saya iseng bertanya tarif transfer dari bandara di gerai Golden Bird yang ada di area kedatangan domestik. Tarif Golden Bird ke Kuta 200 ribu, dengan mobil Avanza, jadi muat untuk kami bertujuh. Oke deh, saya cek toko sebelah dulu ya, hehe.

Setelah kami semua ngumpul, saya sudah siap-siap pakai Uber, tapi saya ragu karena di apps saya tidak bisa memilih jenis mobil. Nanti kalau dapatnya mobil kecil bagaimana? Nggak muat untuk 4 dewasa dan 3 anak. Lalu Si Ayah mencoba pesan taksi bandara di booth resmi, dekat pintu keluar. Katanya tarif dari airport ke Hotel Gemini Star di Kuta 110 ribu. Glek! Itu pun untuk mobil sedan biasa yang cuma muat berempat. Walah, mihil bingits. Mana bapaknya yang jaga galak banget. Ini gimana mau laku ya taksinya? Ketika kami masih berunding, dia teriak-teriak, "JADI PESEN APA NGGAK? KALIAN MENGHALANGI ANTREAN!" Padahal nggak ada orang di belakang rombongan kami. Good bye lah, belum juga naik taksi udah dimarah-marahi.

Akhirnya adik saya yang pintar, cekatan dan tidak sombong mencoba membuka app Grab. Aplikasi ini sama dengan app Grab Taxi di kota lain, bisa diunduh di iOS atau android. Begitu dibuka, app ini langsung tahu posisi kita. Bagian pick-up langsung terisi Ngurah Rai Airport (DPS). Tinggal memasukkan drop-off, ke mana kita ingin diantar. Adik saya memasukkan Hotel Gemini Star dan memang langsung bener lokasinya di daerah Gg Poppies II Kuta sana. Begitu lengkap pick-up dan drop-off nya, langsung kelihatan kisaran tarifnya berapa. Di app muncul Rp 25K, dari airport ke Kuta. Setelah klik "Book GrabCar" si app ini akan tuing-tuing mencarikan driver untuk kita. Gak sampai semenit langsung dapat. Begitu dapat, Dila bersorak dan langsung menelepon Pak Driver. Ternyata mobil Pak Sopir ini sudah ada di bandara, dia memberi tahu agar kami menuju ke bagian keberangkatan domestik. Mobilnya APV warna putih, nomor polisinya sudah kelihatan di app. Rombongan kami bergegas berjalan ke departure. Begitu melihat mobil APV Pak-nya, kami melambai dan mobil menepi di tempat drop off keberangkatan. Pak-nya menyapa dengan ramah. Alhamdulillah kami bertujuh muat di mobil APV yang lapang dan bersih ini. To Kuta we go!




"Untung aku tadi nyoba Grab ya," kata Dila dengan bangga. Ternyata Grab Car tetap bisa dipesan dari bandara, padahal dari berita dan blog yang saya baca, Grab dilarang beroperasi di bandara. Tapi pantas saja kalau taksi bandara merasa terancam dengan keberadaan Grab, mereka tidak bisa seenaknya sendiri melipatgandakan tarif. Saya selalu merasa dirampok dengan layanan taksi bandara. Selain kenaikan harganya sangat tidak wajar, pelayanannya pun buruk. Meski sudah membeli kupon di gerai resmi, sampai tempat tujuan masih dipalak oleh sopir. Ini terjadi tidak hanya di bandara Bali. Pinter banget ya cara Angkasa Pura menyambut turis? :|

Sementara dengan Grab Car, tarif dihitung per-kilometer, tidak terpengaruh dengan macetnya jalan. Sebelum naik, kita diberi kisaran tarif. Setelah sampai di tujuan pun, tarif tidak banyak berubah, dan driver tidak meminta uang lebih.

Dari bandara ke Kuta, kami bertujuh hanya diminta membayar 27 ribu. Murah banget kan hitungannya? Tentu kami memberi tip ke driver yang menyelamatkan kami dari taksi bandara yang overprice dan pelayanannya kasar.

Selanjutnya, saya memakai jasa Grab Car terus selama di Bali. Dari hotel Gemini Star di Kuta menuju Hotel Tugu di Canggu, saya cukup membayar 66 ribu, dengan lama perjalanan satu jam. Tentu saya memberi tip ke driver. Di rute ini, mobil yang kami naiki Avanza, masih cukup baru, bersih dan wangi. Driver ramah dan tidak banyak bicara, namun cukup pandai melewati jalan-jalan sempit di Bali, bahkan melewati jalan tembus berupa pematang sawah berkonblok menuju Canggu.

Dari Hotel Tugu sampai ke Potato Head di Seminyak, kami diantar mobil hotel. Sementara dari Seminyak ke bandara, kami kembali memakai Grab Car. Biayanya hanya 56 ribu. Kalau dihitung-hitung, total pengeluaran kami untuk Grab Car jelas lebih murah daripada kalau sewa mobil harian.

 

Di banyak tempat, saya melihat spanduk-spanduk yang menolak Grab Car dan Uber. Ada beberapa tempat yang melarang Grab dan Uber mengambil penumpang, meski mereka boleh menurunkan penumpang yang naik dari lokasi lain. Ketika saya memesan Grab di Potato Head, drivernya meminta agar tidak menyebutkan kalau dijemput Grab. Ya tinggal bilang aja dijemput driver sih, emang bener kan? Tapi nggak ada yang nanya juga :D Lagipula Grab Car nggak bisa dideteksi karena memang memakai mobil biasa.

Saya sendiri sebagai konsumen, sangat puas dan terbantu dengan adanya Grab Car. Tarifnya lebih murah dan pasti, bisa muat untuk keluarga atau rombongan, dan pelayanannya cukup bagus. Sekarang konsumen memang semakin punya pilihan, sudah waktunya perusahaan yang mengutamakan layanan ke penumpang yang menang.

Kalau kalian gimana, pakai transportasi apa selama di Bali? Ada yang punya pengalaman naik Grab Car atau Uber di Bali? Tulis di komentar ya ^_^

~ The Emak


Jumat, 11 Maret 2016

[Big A Travel Journal] My First Solo Flight


It finally came. The day I was waiting for. The day I rode Garuda again! I finally got to go on a plane after nearly 1 year. That has got to be an achievement. And for the first time, I got to ride it alone.

Your reactions might have been surprised. You might have thought I was going to another  country by myself without any parent supervision. Ha! I wished that's what happened. Unfortunately that's not what happened. I just went to Bali. And my parents went with me. Not on the same plane though. They went on Air Asia while I went on Garuda. It's a long story. But I just might tell you.

So it all started a long time ago (flashback). My mum booked us a flight to Bali. She booked 4 tickets for the 4 of us. My mum also booked us a villa there. I was excited because it's been months since we went anywhere. Because I am a good student, I didn't want to go on the weekdays. Skipping class would surely make me less smart, and I would have lots of homework. So mum bought tickets for Friday afternoon. 

It turns out my school has an event that crashed with our plans. Because I'm a good student, I gave up my Garuda ticket. So the 3 of them left me. They went to Bali, while I was stuck with the other students. They did not stay 2 nights like they planed though. Oh well, good enough. That's what I thought.

After months passed. It turns out my aunt was going to Bali for a few days. Since I still had a ticket, I decided to join them. I didn't feel scared or anything. The one reason I wanted to go alone is because I could eat whatever I wanted. If I had any spare time before my aunt arrives I could eat a few snacks (If my parents gave me money). I've thought about going on a plane by myself before. My mum said I could accompany my dad to Singapore and go back by myself. My dad did not allow it. I have no idea why. It's only an hour flight. I really wanted to eat all those snacks that mum usually won't allow us to eat.

A few months before I went to Bali, mum gave me news. Whether it was good or bad you decide. She told me she was coming with me. After all the talk about me being by myself and me being brave she told me she was coming with me. Huh? After thinking it over, I thought it wasn't so bad. She was going to the same airport and terminal. We also have the same boarding time. We also arrived at the same time. At least I have the 55 minutes of flying to myself.

The bad part is I can't eat anything I want. That was the reason I wanted to be alone in the first place. Oh well. The only reason my mum and dad and sister is coming is because she won a quiz. She stayed in a 5 star hotel and of course I came along. I guess that's the good part.

Shall I start my story? It hasn't started yet, that was the introduction (so you have a clear picture).

The day I went to Bali.
I went inside the same car as my mum. My dad was driving. We were heading to Terminal 2 because even though it's an international airport, if we're going on Garuda we just have to be at Terminal 2. We went inside. This is the part that's different. We need to show our tickets to the guard so they can let us in to the check in area. My mum showed her tickets to the guard. Then I showed my own tickets. It was so nerve-racking (rolls eyes). Usually mum shows the guard my ticket too, but since my ticket was different, she didn't.

First obstacle clear. Now for the real challenge. Checking in. Unless there's baggage, checking in is really not that hard. Mum said we could check in without saying anything. While I was waiting in line mum was behind me though. Thanks for the support (rolls eyes). The conversation with the person behind the counter was very important though. This is what he said.

Him : Are you alone?
Me : Yes.
Him : Anindya [my last name]?
Me : Yes.
Him : You booked the window seat?
Me : Yes.
Him : Thank you
Me : Thank You

I barely said 5 words. Still, if I didn't answer correctly there would be big trouble. Just imagine if I said 'NO'. I wouldn't be able to check in. So you should prepare what you're going to say, just in case the person asks you something.

After checking in we had to go through security check, the usual. Then we found somewhere to sit. We didn't sit in front of the gate. We chose to sit at Starbucks, since Starbucks had sofas. Turns out mums plane was ready first. After a quick trip to the bathroom, my plane was also ready. then we went our separate ways. For the first time, I was alone. Without anyone I know (probably the other passengers I saw at 'check in'. 

It was so much fun! I didn't sit next to anyone since I was in the seat near the window. The one sitting next to the seat next to me was some adult. I was lucky I already went to the bathroom. During my flight I was offered candy. I took one, just in case. We were also given snack boxes. I saved the cakes for my sister. Since the flight was only 55 minutes long we were soon landing. Just so you know, I really like following the rules. So when the seat belt sign is on, I don't think you'll see me without my seat belt. Especially when we're already on the ground. When we arrived, the flight attendant told us to wait until the seat belt sign is off. Since I was near the window I could see the view. What view you say? The view of peoples' bottom as they try to grab their baggage. The view of people waiting for the door to open, even though the seat belt sign is still on. When the people were waiting for the business class to get off, I went through the back. Since I was sitting at the back, I didn't have to wait. I almost laughed at the peoples' faces when they saw me going out the back. We didn't go straight to the building, we had to go on a bus. That forced us to walk outside. While I was walking I tried to picture myself in a movie. It's not everyday you can look cool. Imagine yourself walking with your bag alone, then there's an areoplane wing above you and the wind is lowing in your hair. Someone might just notice. I felt like the twin in 'Parent Trap' when she went of the plane. 

Even though I went out the back, I still went on the second bus. I was the first one on the second bus though, so I got a seat at the back. The people were so funny. Why didn't anyone want to go to the back even though there was still lots of seats? Lots of people prefer standing in front of the door rather than sitting at the back. A minute later we were at our stop. Oh. It turns out the ride was a minute long. It doesn't seem worth the seat, not when you could just get off. Of course I was the last to get off. I didn't want to slow anybody down. When I got off I finally reunited with my family. Finally after 55 minutes of not seeing each other, we could finally talk to each other again. I went to the toilets after that. You know who I saw? The same passengers from my plane! They must have been bursting to go to the toilet if they were in such a hurry. Oh well. That's just the people from my plane. It's not like everyone does that (or do they?) 


Until next time,
~ Big A 

You might interested in:
[Big A Journal] Tasmania - Day 1
[Big A Journal] Tasmania - Day 2
[Big A Journal] Tasmania - Day 3

Senin, 14 Desember 2015

Staycation: Hotel Harris Gubeng Surabaya




Terus terang kami bertiga (tanpa Si Ayah) staycation di Harris Hotel ini karena saya tergoda SALE Harbolnas, hahaha. Masa di Hari Belanja Nasional (12 Desember) yang bertabur diskon nggak beli apa-apa? Akhir pekan ini kami ditinggal Si Ayah yang bertugas ke luar kota. Malam minggu kami memang harus ke luar rumah menghindari tetangga yang berisik. Daripada bete... yo wes staycation aja.

Saya booking hotel Harris via apps Hotel Quickly di handphone. Saat Harbolnas, HQ memberi tambahan diskon 75 ribu. Saya sendiri sudah punya kredit HQ lumayan. Total diskonan HQ saya waktu itu Rp 495.000. Kalau mau nginap di hotel bintang 3 yang kini menjamur di Surabaya, saya nggak perlu nambah biaya lagi. Tapi anak-anak pengennya hotel yang ada kolam renangnya. Dan saya pun pengennya hotel yang gratis sarapannya. Tarif Hotel Harris bulan Desember ini Rp 713.788, termasuk pajak. Dipotong kredit HQ, saya tinggal bayar USD 15,72, pakai kredit paypal. Hore... gak perlu keluar uang. Saya anggap aja hadiah ultah (acaranya diada-adain).

Yang pengen diskonan hotel juga, coba install apps Hotel Quickly di hp (android atau iOS). Masukkan kode dari The Emak: AKUMA 72. Nanti kalian dapat kredit IDR 130 ribu untuk pemesanan pertama. Lumayan kan? Apps ini cocok untuk pesan hotel secara mendadak, untuk malam ini sampai seminggu berikutnya. HQ sudah memilihkan beberapa hotel dengan tarif last minute terbaik. Kalau rajin mengumpulkan poin/kupon, bisa nginep gratis juga. Saya pernah memakai apps HQ ini untuk mengungsi staycation di Hotel Swiss Belinn ketika musuh tetangga tiba-tiba mendirikan terop di depan rumah saya tanpa izin.





Lokasi Hotel Harris Gubeng Surabaya di Jl. Bangka 8-18, dekat dengan stasiun Gubeng (iyaaaa). Waktu kami cek in, suasana cukup ramai. Sepertinya sedang ada acara di hotel ini. Saya sudah suudzon aja kalau hotel ramai begini biasanya pelayanannya tidak begitu bagus.

Kami dapat kamar 917. Saya minta kamar double dengan ranjang besar, tapi mereka cuma punya kamar twin. Resepsionis bilang kalau mau, ranjang twin-nya bisa digabungkan. Saya bilang, "Iya, Mbak, saya mau ranjangnya digabungkan. Tolong ya." Resepsionis bilang, "Lihat-lihat dulu kamarnya Bu, nanti bisa telpon housekeeping dari kamar." Lho?

Kamar kami cukup lega, dekorasinya minimalis dengan warna kesukaan saya, oranye. Kesannya cerah dan ceria. Ranjang cukup nyaman, dan ada gulingnya (jarang lho ada guling di hotel). Jadi seperti di rumah. Amenities lainnya standar: teh, kopi, krimer, gula, dan dua botol air mineral. Ada juga kulkas kecil seperti show case tapi nggak ada isinya. Ada safety box. Kamar mandi cukup luas, dengan pancuran besar di atas. Perlengkapan mandi juga lengkap: sabun, sampo, sikat gigi, pasta gigi, dll.

TV ada saluran untuk anak-anaknya. Ini penting, kalau nggak, Little A dan Big A bakal bete karena mereka nggak punya TV di rumah. Bisanya nonton TV di hotel atau pas di rumah Kakek Nenek. Wifi bisa nyambung tanpa perlu password, tapi kecepatannya biasa-biasa saja, sama seperti wifi di rumah. 

Masalah muncul ketika saya sadar cuma diberi satu kunci kamar. Little A maunya lihat kolam renang, sementara Big A maunya di kamar aja. Padahal untuk naik lift harus bawa kunci kamar. Saya berhasil menyeret duo precils ke resepsionis untuk minta kunci tambahan. Ternyata tidak ada kunci tambahan. Resepsionis minta maaf karena tidak bisa memberi saya room card ekstra. "Shouldn't you have enough room cards for everyone?" tanya saya. Petugas hotel menawarkan akan mengantar kami kalau pas keluar tanpa kunci. Ya repot Mas. Kami kan juga perlu ke kolam renang dan resto. Ribet kalau harus minta antar-antar segala. Di sini saya merasa disepelekan. Entah mereka beneran kehabisan kunci atau tidak mau memberi saya kunci karena kami dianggap tamu yang tidak penting (mulai dramaaaa...) *nangis di pojokan*

Di resepsionis, saya juga menanyakan adanya shuttle gratis ke pusat-pusat perbelanjaan, seperti yang diiklankan di website mereka. "Tolong saya pesan untuk nanti malam jam 6 ke Grand City, untuk 3 orang," kata saya. Mas resepsionis bisik-bisik di HT, buka catatan di meja, terus bilang kalau shuttle sudah penuh. Oh... Baiklah, mungkin shuttle memang sudah penuh, atau mungkin memang tidak ada. Untuk yang ini saya maklum, mungkin seat memang terbatas. Tapi kalau kunci kamar... *masih dendam*

Kalau mau makan enak, di dekat hotel ini ada Restoran Steak terbaik di Surabaya: Boncafe. Tinggal menyeberang jalan dari hotel. Tapi harganya lumayan premium ya. Kami memilih makan malam di Mal Grand City, yang cukup dekat dengan hotel. Sekalian kami mau nonton The Good Dino di sana. Karena tidak ada shuttle, kami naik taksi, pesan dari concierge di depan. Dua perusahaan taksi di Surabaya yang cukup bagus pelayanannya dan selalu pakai argo adalah Orenz Taxi dan Blue Bird. Dari hotel ke Mal Grand City, saya cukup membayar tarif minimal, kalau naik Blue Bird Rp 25.000, sementara kalau naik Orenz cukup Rp 15.000.






Tidur nyaman, bangun pagi pun bisa segar. Kami sarapan di resto hotel di lantai 5, satu lantai dengan kolam renang dan spa. Restorannya cukup luas, meski tamunya banyak, tidak terasa sumpek atau ramai. Kami memilih duduk di bangku yang desainnya seperti bangku piknik. Sebenarnya pengen duduk di luar sambil melihat pemandangan kota, tapi ternyata outdoor-nya smoking area. Huh, no way

Menu sarapannya sangat beragam, menu Western, Asia dan masakan Indonesia. Bisa ditebak, lidah bule Little A memilih roti panggang dengan selai. Big A memilih sushi dan salad. Sementara saya merasa wajib mencicipi sajian bubur ayam di setiap hotel. Parahnya, saya salah ambil ketika menata menu bubur. Kebetulan sajian bubur disandingkan dengan menu rawon. Saya terlanjut mengambil kecambah yang sebenarnya untuk rawon. Bubur ayam dengan kecambah? Arrrrgghhh... Anak-anak malah ngakak menertawakan Emaknya.

Makanan di sini enak-enak, pelayanannya juga bagus. Sushinya enak, sayuran untuk saladnya segar, buahnya segar, salad dressing juga enak. Kopinya enaaaak pakai mesin kopi. Alhamdulillah yah. Kalau kopinya nggak enak dan nggak ada susunya, mungkin saya bisa ngomel-ngomel lagi, hahaha. Yang istimewa, ada counter jamu Iboe di resto ini. Saya minta dibuatkan kunyit asam dan kulit manggis (biar kulitnya mulus dong). Ternyata anak-anak nggak doyan, sampai saya harus bertanggung jawab minum jamu dua gelas!

Enaknya di hotel Harris, anak-anak usia di bawah 12 tahun boleh menginap dan sarapan gratis, nggak perlu bayar extra. Asal mau tidur empet-empetan dikit, hotel ini bisa muat 2 dewasa dan 2 anak di bawah usia 12 tahun tanpa membayar extra bed.














Setelah kenyang, kami lanjutkan dengan berenang di sebelah restoran. Big A cuma mau baca buku dan leyeh-leyeh sampai ketiduran di pinggir kolam. Di kolam renang ini ada kolam kecilnya untuk anak-anak, tapi ya cuma bisa untuk main-main saja, kedalamannya cuma 60 cm. Little A yang ingin berenang beneran minta langsung nyemplung di kolam dewasa. Untung kedalamannya cuma 120 cm, saya masih bisa berdiri tanpa kelelep :p

Dino Club atau tempat bermain anak ada di sebelah kolam renang ini. Selesai bilas, Little A sempat bermain-main di sini. Mainannya cukup lengkap, tapi tidak ada penjaga/petugas di sini. Kalau anaknya masih kecil harus dijaga sendiri.

Kami lumayan senang sih staycation di Harris, despite the room key problem. Happy ending karena saya dan Little A cukup lama berenang sampai puas dan pegal-pegal. Big A juga puas tidur-tiduran di tepi kolam. Hotel Harris ini bisa jadi pilihan untuk keluarga dengan dua anak di bawah 12 tahun yang mau ngirit tanpa extra bed. Tapi memang bed-nya kecil, lebih kecil daripada di Swiss Belinn yang muat untuk berempat. Hotel Harris ini juga bersebelahan dengan hotel Pop yang tarifnya lebih murah, tapi tanpa fasilitas kolam renang. Dari kolam renang Harris, kami bisa melihat jendela-jendela kamar Pop Hotel. Mungkin suatu saat kami akan mencoba menginap di sana. Little A menyarankan, kalau menginap di Pop Hotel dan ingin berenang, tinggal lompat dari jendela aja, Ma. Hahaha.









~ The Emak 

Rabu, 09 Desember 2015

Cara Gampang Mengurus Bebas-Visa Jepang


Saya mendapatkan bebas-visa atau visa waiver Jepang ini secara tidak sengaja. Sampai saat ini saya belum punya rencana pasti, kapan akan ke Jepang. Pengen sih pengen, tapi belum ada rencana dan belum beli tiket. Dalam waktu dekat saya dan Si Ayah malah akan pergi ke Taipei. Saya mengajukan bebas-visa Jepang karena 'tertipu' postingan sebuah blog yang mengatakan bahwa kita bisa mengajukan visa Taiwan secara online kalau kita punya visa Jepang. Saya kurang teliti mencari konfirmasi, ternyata yang bisa mengurus visa Taiwan online adalah WNI yang sudah punya VISA Jepang (stiker besar yang ada fotonya), bukan VISA WAIVER yang hanya tempelan stiker kecil doang. Tapi ya sudah lah, tetap ada hikmahnya. Gara-gara postingan itu saya dan suami jadi punya visa waiver Jepang. Jadi kalau ada yang sedekah tiket ke Jepang, saya tinggal berangkat, hahaha. Ada?

Bebas visa Jepang sudah diberlakukan bagi WNI mulai 1 Desember 2014. Tapi tentu ada syaratnya. Yang bisa mengajukan bebas visa adalah pemegang e-paspor (paspor yang sudah ada chip elektroniknya). Sebelum berangkat, pemegang e-paspor wajib mendaftarkan diri dulu di kedutaan atau konsulat Jepang di Indonesia.
Kiri: paspor Biasa. Kanan: e-paspor (ada gambar chip)

Formulir Aplikasi Bebas Visa Jepang
Syarat-syarat untuk mendapatkan bebas visa Jepang (Japan Visa Waiver) sudah tertulis jelas di website Japan Embassy: http://www.id.emb-japan.go.jp/news14_30.html. Syaratnya cukup sederhana: cukup bawa e-paspor dan mengisi formulir aplikasi. Formulirnya pun sangat sederhana, tinggal mengisi data diri dan alamat yang ditempati sekarang. Jangan lupa tanda tangan :) Formulir aplikasi bisa diunduh di tautan ini. Biayanya GRATIS.

Saking sederhananya, saya malah jadi sangsi. Beneran nih segampang ini?? Nggak pakai pasfoto? Nggak pakai buku tabungan, slip gaji? Tapi berdasar cerita teman-teman travel blogger, syaratnya memang cuma dua itu. Ya udah, pokoknya saya berangkat. Saya masih menyisakan pertanyaan: bisa nggak diwakilkan? Karena yang bisa mengurus visa waiver di hari kerja cuma saya, sementara Si Ayah sibuk mengabdi pada bangsa dan negara. Ya udahlah, pokoknya saya mintakan tanda tangan Si Ayah di formulir, bawa paspornya dan berangkat!

Lokasi konsulat jendral Jepang di Surabaya ada di daerah Gubeng. Dengan satu klik di Google Map, langsung ketahuan alamat lengkapnya di Jl Sumatra No. 93. Saya naik taksi ke sana dan masuk lewat jalan Jawa. Perlu dicatat, konjen Jepang ini tidak menyediakan tempat parkir. Yang bawa mobil atau motor, bisa parkir di pinggir jalan Sumatra yang cukup sepi ini di seberang konjen, tapi tidak boleh terlalu dekat dengan bangunan konsulat. Atau... bisa titip di warung/toko di Jl. Jawa. 

Jam kerja konjen Jepang adalah Senin sampai Jumat. Pengajuan visa atau bebas visa dilayani pagi hari pukul 8.15 sampai 11.30. Sementara pengambilan dilayani siang jam 13.15 sampai sore jam 15.30.

Sebelum masuk gedung, kita harus lapor satpam terlebih dahulu, keperluannya apa. Kita juga diminta mengisi buku tamu, menunjukkan KTP atau SIM dan menitipkan barang-barang elektronik, dalam kasus saya cuma handphone saja. Kemudian satpam akan membukakan pintu setelah kita melewati metal detector. 

Ketika saya datang Senin pagi untuk mengurus bebas visa, konjen Jepang tampak sepi, hanya ada dua orang selain saya. Saya mengambil nomor antrean dari mesin dan duduk menunggu. Tidak lama kemudian, saya dipanggil dan segera saya serahkan dokumen ke loket: e-paspor saya dan suami beserta dua formulir registrasi yang sudah ditanda tangani. Petugas mengecek sebentar kemudian membuatkan tanda terima. "Besok bisa diambil," katanya. Hah, gitu doang? Saya senyum-senyum ajaib dan bilang terima kasih.

Peta lokasi Konjen Jepang di Surabaya

Keesokan siangnya, saya kembali ke konsulat jendral Jepang di Surabaya di Gubeng. Kembali menjalani pemeriksaan satpam dan masuk ke gedung. Kali ini tidak ada orang sama sekali. Saya mengambil nomor antrean dan menunggu. Ternyata harus menekan bel untuk memberi tahu kalau ada tamu. Akhirnya petugas muncul di loket, saya menyerahkan tanda terima dan petugas mengambilkan e-paspor kami berdua. Saya cek, stiker bebas visa sudah bertengger manis di paspor saya dan Si Ayah. Alhamdulillah.

Petugas mengingatkan kalau bebas visa saya hanya berlaku untuk kunjungan singkat maksimal 15 hari di Jepang (dalam satu waktu). Masa berlaku visa waiver selama 3 tahun sejak tanggal diberikan atau sesuai masa berlaku paspor, mana yang terjadi lebih dulu. Artinya saya bisa bebas wira-wiri ke Jepang sampai 8 Desember 2018. Tentu kalau punya tiket dan sangu :D


Dari pengalaman saya, mengajukan bebas visa Jepang ternyata mudah sekali, asal sudah punya e-paspor. Saya sarankan untuk yang pengen ke Jepang, mending membuat atau memperpanjang e-paspor daripada membuat visa Jepang yang membutuhkan syarat macam-macam. Selisih paspor biasa dan e-paspor adalah 300 ribu. Sementara visa Jepang biayanya 330 ribu untuk single entry dan 660 ribu untuk multiple entries. Lebih murah bikin e-paspor dan mengajukan bebas visa kan? Coba baca pengalaman kami memperpanjang e-paspor di Kantor Imigrasi Surabaya.
 
Good luck ^_^

~ The Emak


Lampiran: 
Alamat Kedutaan dan konsulat Jepang di Indonesia dan wilayah kerjanya.
Sumber: http://www.id.emb-japan.go.jp

Bagian Konsuler Kedutaan Besar Jepang di Jakarta


Jl. M.H. Thamrin No. 24, Jakarta 10350, INDONESIA
Telephone: (021) 3192-4308
FAX : (021) 315-7156

Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :
Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung


Kantor Konsuler Jepang di Makassar


Gedung Wisma Kalla Lantai 7
Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 8-10, Makassar, INDONESIA
Telephone : (0411) 871-030
FAX : (0411) 853-946
Website : http://www.surabaya.id.emb-japan.go.jp/makassar/

Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :
Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua (Irian Jaya), Papua Barat


Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya


Jl. Sumatera No. 93, Surabaya, INDONESIA
Telephone : (031) 503-0008
FAX : (031) 503-0037, 502-3007 (Visa)
Website : http://www.surabaya.id.emb-japan.go.jp/

Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :
Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan


Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar


Jl. Raya Puputan No.170, Renon, Denpasar, Bali, INDONESIA
Telephone : (0361) 227-628
FAX : (0361) 265-066
Website : http://www.denpasar.id.emb-japan.go.jp/

Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :
Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur



Konsulat Jenderal Jepang di Medan


Sinar Mas Land Plaza (Wisma BII), 5th floor
Jl. Pangeran Diponegoro No. 18, Medan, Sumatera Utara, INDONESIA
Telephone : (061) 457-5193
FAX : (061) 457-4560
Website : http://www.medan.id.emb-japan.go.jp/

Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :
Aceh Nangroe Darusalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kepulauan Riau